©Novel Buddy
Aryuu the unknowable god-Chapter 24: Bab 23 – Keheningan Sebelum Badai
Chapter 24 - Bab 23 – Keheningan Sebelum Badai
Setelah kepergian Ellen dan Barons, suasana di sekitar Aryuu dan Akeno mulai tenang. Para siswa yang sempat mengintip dari balik jendela atau bersembunyi di balik tiang-tiang batu akademi perlahan kembali ke aktivitas mereka. Meski begitu, rasa penasaran dan ketertarikan terhadap Aryuu mulai tumbuh lebih dalam di antara para siswa—terutama para petinggi akademi yang mulai menyadari bahwa Aryuu bukanlah siswa biasa.
Namun, untuk saat ini, semua kembali seperti semula.
Aryuu berjalan santai menyusuri lorong, tangannya dimasukkan ke dalam saku, dan ekspresinya kembali tenang seperti biasa.
---
"Huff... akhirnya tenang juga," gumam Aryuu pelan sambil melirik ke arah langit dari jendela besar akademi.
---
Di sisi lain, Akeno berjalan sedikit di belakang Aryuu sambil sesekali mengintip wajah Aryuu dari samping. Pipinya masih sedikit kemerahan, dan ekspresinya tidak bisa menutupi rasa malu yang masih tersisa dari insiden sebelumnya.
Sementara itu, Hana—yang sedari tadi mengikuti mereka dengan wajah bingung—akhirnya tidak tahan untuk bertanya.
---
Hana (mengusap pelipisnya):
"Hey, Aryuu... aku masih belum mengerti. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Akeno? Dia benar-benar seperti orang yang berbeda tadi..."
---
Aryuu menoleh sedikit, lalu menghela napas.
---
Aryuu:
"Itu... bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan logika sederhana, Hana. Intinya, dia hanya... terlalu ekspresif kalau sudah cemburu."
---
Hana (mengernyit):
"Cemburu... hanya karena kau menepuk kepalaku?"
---
Aryuu menahan senyum, lalu mengangguk pelan.
---
Aryuu:
"Ya. Sepertinya begitu."
---
Hana terdiam. Wajahnya memerah. Dia baru sadar... bahwa cemburu Akeno bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele.
Tak lama kemudian, mereka bertiga sampai di taman belakang akademi—tempat yang cukup sepi dan sering digunakan siswa untuk bersantai. Aryuu memilih duduk di bangku kayu di bawah pohon besar, sementara Akeno dan Hana berdiri di dekatnya.
Hening.
Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama.
Langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Langkah yang ringan dan penuh percaya diri.
---
???:
"Ara~ Aku tidak menyangka akan melihat kalian bertiga berkumpul di sini."
---
Aryuu menoleh pelan ke arah suara itu dan menemukan Keina berdiri dengan senyum tipis. Di belakangnya, seperti biasa, Lucius berjalan tanpa ekspresi, tampak tidak peduli dengan segala yang terjadi di sekelilingnya.
---
Keina (tersenyum manis):
"Aku dengar ada sedikit keributan tadi. Sayang sekali aku tidak melihatnya langsung."
---
Hana (berbisik pelan ke Aryuu):
"Kenapa dia selalu muncul tiba-tiba seperti ini...?"
---
Aryuu tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada Lucius—yang meskipun tidak mengatakan apa-apa, namun menatap Aryuu seolah berkata:
"Aku tahu ini semua pasti ada hubungannya denganmu."
Lucius lewat begitu saja tanpa berkata sepatah kata, namun sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, dia berhenti sejenak.
---
Lucius (tanpa menoleh):
"Tolong jangan buat masalah yang bisa membuatku ikut terlibat lagi."
---
Aryuu menghela napas.
---
Aryuu (berdiri, menjawab malas):
"Percayalah, aku juga tidak ingin terlibat dengan hal yang tidak perlu. Tapi sayangnya, hal itu terus datang padaku."
---
Lucius (berjalan pergi, dengan suara tenang):
"Itu masalahmu."
---
Keina tertawa kecil melihat percakapan mereka, lalu duduk di sisi kanan Aryuu.
---
Keina (menyandarkan dagu ke tangannya):
"Kalian berdua selalu terlihat seperti dua sisi mata uang. Sama-sama misterius... tapi saling bertolak belakang."
---
Akeno (sedikit tidak suka dengan kehadiran Keina):
"Kau hanya datang untuk mengganggu, bukan?"
---
Keina (tersenyum santai):
"Aku hanya ingin bersantai, Akeno. Tidak lebih."
---
Hana (berbisik ke Aryuu):
"Sejak kapan taman belakang jadi tempat populer...?"
---
Aryuu mengangguk pelan.
Situasi ini terasa seperti... keheningan sebelum badai.
Semua kembali ke tempat masing-masing, tapi aroma bahaya dan konflik masih samar tercium di udara.
Dan entah mengapa, Aryuu bisa merasakan bahwa waktu damai ini... tidak akan bertahan lama.
Sinar mentari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di antara dedaunan taman belakang akademi. Suasana yang semula hening dan damai setelah pertemuan singkat antara Aryuu, Akeno, Hana, Keina, dan Lucius kini mulai perlahan kembali ke titik normal. Para siswa satu per satu kembali ke kelas atau asrama masing-masing, meninggalkan Aryuu dan dua rekannya yang masih duduk santai di bawah pohon besar.
Namun tanpa sepengetahuan mereka... seseorang tengah memperhatikan dengan penuh minat dari kejauhan.
Di balik salah satu menara kecil akademi, sesosok wanita berdiri santai bersandar pada dinding batu tua. Rambut panjangnya yang berwarna kuning keputihan terikat rapi seperti kelabang di atas kepalanya, berayun pelan tertiup angin sore. Ia mengenakan pakaian seperti zirah tipis berwarna hitam terang dengan corak garis-garis merah darah yang seakan mengalir hidup di tubuhnya.
Dialah Chammie.
Salah satu siswa paling berbahaya yang ada di akademi.
Bukan hanya karena tingkatnya yang nyaris menyentuh peringkat S, tetapi juga karena kekuatan manipulasi kegelapannya yang luar biasa.
---
Chammie (tersenyum kecil):
"Hmm... jadi itu dia yang mereka bicarakan. Siswa kelas C yang bisa mengalahkan siswa tingkat A dan bahkan menghentikan serangan seorang Keina tanpa terlihat panik sedikit pun..."
---
Di tangannya tergenggam sebuah tombak berwarna gelap—terbuat dari obsidian pekat, dengan ujungnya menyala perlahan seperti menyimpan energi hitam pekat yang nyaris tidak bisa dipahami. Senjata itu bukanlah senjata biasa. Ujung tombaknya diciptakan dari batu kegelapan hasil manifestasi kekuatannya sendiri.
---
Chammie (melirik tajam):
"Aryuu, ya... wajahnya tenang, auranya tenang... tapi ada sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang... tidak bisa dilihat oleh orang biasa."
---
Ia melangkah perlahan menyusuri koridor atas, masih memperhatikan dari kejauhan. Dari balik bayangan, ia bisa melihat bagaimana Akeno tertawa kecil sambil memukul pelan lengan Aryuu, dan Hana yang terlihat mulai nyaman bersandar di bangku kayu sambil menatap langit.
---
Chammie:
"Dia bisa menetralkan hawa gelap milik Keina tanpa bersusah payah... dan juga bisa menerima serangan frontal dari Akeno, meskipun tidak serius. Jika dia benar-benar hanya kelas C, maka ini lucu."
---
Wajah anggunnya tersenyum tipis, tapi sorot matanya tak menipu—mata itu dipenuhi kegilaan yang tenang. Seolah-olah ia baru saja menemukan mainan baru yang belum ia uji coba.
Tiba-tiba, udara di sekeliling tempat Chammie berdiri sedikit bergetar. Tidak cukup kuat untuk dirasakan orang awam, namun bagi makhluk dengan kepekaan tinggi terhadap energi gelap—getaran itu seperti peringatan.
Bayangan di bawah kakinya mulai menari pelan... seperti menjawab bisikan tuannya.
---
Chammie (berbisik):
"Aku penasaran, Aryuu... jika aku menyerangmu dengan Rain of Darkness Spears, apakah kau akan tetap tenang seperti sekarang? Atau kau akan... menunjukkan wajah aslimu?"
---
Angin sore bertiup lembut, namun hawa aneh mulai menyelimuti udara.
Dan meskipun Aryuu tidak melihatnya secara langsung, namun... matanya menoleh sedikit ke arah tempat Chammie berdiri.
Pandangan mereka tidak saling bertemu. Tapi senyuman tipis muncul di sudut bibir Aryuu.
---
Aryuu (dalam hati):
"...Satu lagi yang penasaran. Dunia ini tidak akan membiarkanku diam, ya."
---
Di balik senyum dan sikap tenang Aryuu, ia tahu... Chammie bukan musuh biasa.
R𝑒ad lat𝒆st chapt𝒆rs at free𝑤ebnovel.com Only.
Rain of Darkness Spears miliknya dapat menembus pertahanan tingkat tinggi dalam jarak yang hampir mustahil dijangkau manusia biasa.
Darkness Slash dan Sonic Shot miliknya mampu menghancurkan medan luas hanya dengan satu gerakan.
Dan yang terburuk... Black Hole Darkness—sebuah kekuatan pamungkas yang mampu menghisap segala bentuk energi hingga tidak menyisakan apa pun.
Aryuu tidak merasa takut...
Namun ia juga tidak menyepelekan.
---
Aryuu (pelan, setengah senyum):
"Kalau kau ingin tahu... datanglah langsung. Aku tidak keberatan."
---
Di kejauhan, Chammie tiba-tiba tersenyum manis. Seolah-olah ia bisa mendengar bisikan dari Aryuu meski jarak memisahkan mereka.
---
Chammie (menarik napas panjang):
"Menarik... sangat menarik... Sepertinya aku akan bersenang-senang kali ini."
---
Ia lalu membalikkan badan dan berjalan santai menjauh. Tombaknya berputar ringan di tangannya, meninggalkan jejak bayangan halus di sepanjang lantai.
Sebelum pergi, ia berbisik satu kalimat... cukup pelan hingga hanya bayangan di sekitarnya yang mendengarnya.
---
Chammie:
"Aku akan menemuimu nanti, Aryuu. Di waktu yang tepat. Di tempat yang lebih gelap."
Langit malam telah menggantung tinggi, menyelimuti dunia dengan selimut kelam yang sunyi. Bintang-bintang bersinar samar di balik awan tipis, dan angin dingin berdesir lembut melewati celah-celah rumah kecil di pinggiran kota Arkanis.
Di dalam rumah sederhana itu, Aryuu duduk bersila di lantai kayu yang dingin, baru saja menyelesaikan makan malam bersama ibunya, Elina. Makanan hangat yang disiapkan Elina sederhana tapi penuh rasa cinta—sup sayur hangat dan roti panggang yang harum.
---
Elina (tersenyum lembut):
"Kau pulang lebih larut hari ini, Aryuu... apa semua baik-baik saja di akademi?"
Aryuu (mengangguk pelan):
"Semua berjalan seperti biasa, Ibu."
---
Setelah merapikan piring dan menyimpan sisanya, Aryuu berjalan perlahan menuju biliknya. Tempat tidurnya hanyalah kasur tipis di atas tatakan kayu dengan selimut tua, namun ia tak pernah mengeluh. Justru... di tempat inilah dia paling bisa merasa tenang.
Namun... saat ia hendak memejamkan mata, sebuah firasat menyentuh kesadarannya.
Tidak seperti biasanya, firasat itu sangat jelas. Sebuah dorongan yang tidak bisa diabaikan. Pandangannya mengarah ke jendela kecil di kamar, menatap ke luar menuju kegelapan malam yang menyelimuti Padang Rumput Selatan—sebuah tempat terbuka tak jauh dari rumahnya.
---
Aryuu (berbisik):
"...Aku tahu rasa ini. Sesuatu sedang menungguku di sana."
---
Sebuah suara dalam pikirannya menyahut, tenang dan dalam.
Agnithantos:
Aku juga merasakannya, Aryuu. Sesuatu yang tidak biasa. Seperti... kekuatan gelap yang tidak stabil.
---
Tak perlu berpikir panjang, Aryuu mengenakan jubah hitam tipisnya dan melangkah keluar, Agnithantos menyusulnya dalam bentuk kecilnya—seekor naga berwarna hitam keunguan dengan mata bercahaya merah samar, berdiri di bahunya. Tak ada yang menyadari kepergian mereka di tengah malam, bahkan Elina yang tengah beristirahat.
Langkah mereka tenang, menyusuri jalan kecil yang sepi hingga tiba di padang rumput luas. Angin di sana terasa berbeda—lebih dingin, lebih pekat.
Dan di tengah lapangan itu... seseorang telah menunggu.
---
Chammie.
Dengan senyum gilanya yang khas, berdiri tegak memegang tombak obsidiannya. Pakaiannya yang gelap dan bercorak merah seperti berdansa bersama angin malam. Bayangan di sekitarnya bergerak seperti makhluk hidup—bergerak tak menentu, seolah haus akan sesuatu.
---
Chammie (tersenyum lebar):
"Aku tahu kau akan datang, Aryuu... Firasa—eh? Atau intuisi? Atau mungkin... karena kau memang bukan orang biasa?"
---
Aryuu hanya diam, mata hitamnya menatap lurus ke arahnya tanpa emosi. Angin malam berputar di antara mereka, membawa serta hawa gelap yang kian mengental.
---
Aryuu:
"Aku tahu kau ada di sana sejak siang. Dan sekarang, kau datang langsung. Kau ingin jawaban, bukan?"
Chammie:
"Hahaha... Tidak juga. Aku hanya ingin... bermain."
---
Dalam sekejap, tombaknya terangkat tinggi, dan tanpa aba-aba...
Rain of Darkness Spears!
Langit malam langsung menghitam. Ribuan tombak gelap jatuh seperti hujan meteor, menyasar langsung ke Aryuu dan Agnithantos.
Namun... tidak ada kepanikan. Tidak ada gerakan tergesa.
Aryuu hanya mengangkat satu tangan, dan... dalam satu desahan napas—semua tombak itu membeku di udara, lalu menghancur menjadi debu hitam sebelum menyentuh tanah.
---
Chammie (mata membelalak, senyum melebar):
"Ah... HAHAHA! Aku tahu! Kau memang menyembunyikan sesuatu!"
---
Ia melompat, memutar tombaknya dan mengayunkannya ke arah Aryuu dengan skill Darkness Slash yang membelah tanah. Namun, sebelum serangannya menyentuh, tubuhnya terpental ke belakang oleh tekanan tak terlihat—seolah udara di sekitar Aryuu berubah menjadi dinding absolut.
---
Agnithantos (di bahu Aryuu):
"Sudah kubilang. Kekuatan ini bukan untuk pertunjukan jalanan."
---
Aryuu (datar, tak bergerak):
"Aku tidak menyukai kekerasan tanpa alasan. Tapi kalau kau hanya ingin memastikan... sekarang kau tahu, bukan?"
---
Chammie, yang terjatuh di rerumputan, kembali berdiri perlahan. Debu berterbangan di sekitarnya. Namun senyum gilanya tidak pudar sedikit pun—malah semakin lebar.
---
Chammie (bernapas berat, tertawa kecil):
"Huft...hahaha... kau memang berbahaya... aku suka itu. Seseorang yang menyimpan kegelapan sebesar ini di balik wajah datar dan energi kecil seperti itu..."
---
Ia melangkah mundur, tidak dalam kekalahan, tapi puas.
---
Chammie (melambaikan tangan):
"Aku tidak akan bilang 'sampai jumpa'. Karena aku tahu... kita akan bertemu lagi, Aryuu. Dan saat itu, aku ingin melihat... lebih dari kekuatan kecilmu yang selama ini kau sembunyikan."
---
Dalam sekejap, bayangan di tanahnya menyelimuti tubuhnya dan ia lenyap begitu saja ke dalam kegelapan malam.
Aryuu hanya berdiri diam di tengah padang rumput, menatap langit yang kembali cerah.
---
Agnithantos:
"Dia... bukan musuh yang bisa diremehkan."
Aryuu (tenang):
"Tentu tidak. Tapi dia juga bukan ancaman. Belum."
---
Malam kembali sunyi, seolah pertarungan kecil tadi tak pernah terjadi.
Namun satu hal kini pasti—Chammie tahu... Aryuu bukan sekadar siswa kelas C.
Dan rahasia itu... mulai menggoda lebih banyak mata dari bayangan.
---
Bersambung ke Bab 24...